HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN SOSIAL DAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU DELINKUEN PADA REMAJA

Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 1, Juni 2006

HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN SOSIAL DAN KEMAMPUAN
MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU
DELINKUEN PADA REMAJA
(CORRELATION BETWEEN SOCIAL ADJUSTMENT AND PROBLEM SOLVING WITH
THE BEHAVIORAL DELINQUENCY at ADOLESCENT)

Eko Setianingsih, Zahrotul Uyun, Susatyo Yuwono
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Abstract. The purpose of this research is to know the correlation between social
adjustment and problem solving with the behavioral delinquency at adolescent. By
cluster random sampling, subjects are 78 students of SMU PGRI 01 Kendal. The
measurement tools are behavioral of delinquency scale, social adjustment scale and
problem solving scale. Results shows that there are very significant correlation
between social adjustment and problem solving with the behavioral delinquency.
Abstraksi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara penyesuaian
sosial dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan kecenderungan perilaku
delikuen pada remaja. Melalui teknik cluster random sampling, diperoleh subjek
penelitian 78 siswa-siswi SMU PGRI 01 Kendal. Alat ukur penelitian ini adalah skala
kecenderungan perilaku delinkuen, skala penyesuaian sosial dan skala kemampuan
menyelesaikan masalah. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang sangat
signifikan antara penyesuaian sosial dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan
kecenderungan perilaku delinkuen.
Kata Kunci: Kecenderungan perilaku delinkuen, penyesuaian sosial, kemampuan
menyelesaikan masalah
Masa remaja adalah masa krisis identitas bagi kebanyakan anak remaja. Remaja sedang
mencari-cari figur panutan, namun figur itu tidak ada didekatnya. Secara umum dan dalam
kondisi normal sekalipun, masa ini merupakan periode yang sulit untuk ditempuh, baik secara
individual ataupun kelompok, sehingga remaja sering dikatakan sebagai kelompok umur
bermasalah (the trouble teens). Hal inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa masa remaja
dinilai lebih rawan daripada tahap-tahap perkembangan manusia yang lain.
Menurut Kuntjoro (2006) masalah kenakalan remaja seperti kegiatan seksual yang tidak
aman dewasa ini dirasakan makin meningkat, hal ini dapat dilihat dari kasus HIV-AIDS di
Jambi. Terdapat 16 kasus penderita positif HIV-AIDS di Provinsi Jambi dalam dua tahun terakhir
ini, delapan di antaranya telah meninggal dunia. Data dari LSM Sentral Informasi Orang Kito
(Sikok) Jambi yang bergerak di bidang kenakalan remaja dan kesehatan, Sabtu (22/4)
menyebutkan dari 16 kasus penderita positif HIV-AIDS yang dirawat di rumah sakit terbanyak
pada 2005. Kasus HIV-AIDS yang merupakan fenomena gunung es itu, di Jambi selama 2005,
ditemukan peningkatan jumlah korban. Oktober tercatat 107 kasus dan terakhir, 31 Desember
lalu meningkat menjadi 151 kasus.
Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 1, Juni 2006
30
Masalah kenakalan remaja tidak hanya merambah kota-kota besar saja. Website
kabupaten Garut menyatakan bahwa banyak kasus kenakalan khususnya tawuran yang dilakukan
remaja. Laporan tentang tawuran diperoleh dari pihak Kepolisian Resort (Polres) setempat yang
sering menemukan kasus kenakalan remaja bahkan kepolisian sering menemukan benda-benda
tajam yang dibawa kalangan remaja tersebut.
Permasalahan
Bagaimana hubungan antara perilaku delinkuen dengan peneyesuaian sosial dan
kemampuan menyelesaikan masalah pada remaja
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah : 1) mengetahui hubungan antara penyesuaian sosial dan
kemampuan menyelesaikan masalah dengan kecenderungan perilaku delikuen pada remaja, 2)
mengetahui hubungan antara penyesuaian sosial dengan kecenderungan perilaku delikuen pada
remaja, 3) mengetahui hubungan antara kemampuan menyelesaikan masalah dengan perilaku
delikuen pada remaja, 4) mengetahui tingkat penyesuaian sosial, tingkat kemampuan
menyelesaikan masalah dan tingkat kecenderungan perilaku delinkuen pada remaja, 5)
mengetahui peranan penyesuaian sosial dan kemampuan menyelesaikan masalah terhadap
kecenderungan perilaku delinkuen.
Tinjauan Teori
Remaja yang kurang mendapat pemenuhan kebutuhan psikis dari lingkungannya dapat
mengakibatkan remaja tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah marah dan susah tidur,
lebih gugup dan agresif (Shapiro dalam Sari, 2005). Pada kondisi ini, remaja menjadi rentan
untuk terlibat pada kasus-kasus kriminalitas akibat pengaruh kekuatan yang tidak baik dalam
lingkungan sosialnya, seperti resiko pemakaian obat terlarang, kekerasan atau kegiatan seksual
yang tidak aman (Gottman & DeClaire dalam Sari, 2005). Perilaku remaja yang mengarah pada
tindak kejahatan atau perilaku asosial merupakan ketidakmampuan remaja untuk menjalin
hubungan baik dengan lingkungan dan menjalankan norma masyarakat.
Agar seseorang berperilaku baik tentu saja harus didasari adanya kemampuan untuk
menyesuaiakan dirinya dengan keadaan lingkungan tempat ia tinggal, sedangkan bila seseorang
gagal dalam mengadakan penyesuaian diri akan dimanifestasi dalam kelainan tingkah laku yang
dimunculkan dalam bentuk tingkah laku yang agresif, penganiayaan, penipuan, pemakaian obat
terlarang atau narkotika dan sebagainya (Daradjat, 1985).
Lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan remaja, karena
remaja tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga dirumah atau dengan teman-teman
disekolah tetapi juga mulai menjalin hubungan dengan orang-orang dewasa di luar lingkungan
rumah dan sekolah, yaitu lingkungan masyarakat. Kondisi lingkungan selalu berubah setiap saat,
oleh karenanya remaja dituntut untuk dapat membina dan menyesuaikan diri dengan bentukbentuk
hubungan yang baru dalam berbagai situasi, sesuai dengan peran yang dibawanya pada
saat itu dengan lebih matang. Mengingat besarnya arti dan manfaat penerimaan dari lingkungan,
baik teman sebaya maupun masyarakat, remaja diharapkan mampu bertanggung jawab secara
sosial, mengembangkan kemampuan intelektual dan konsep-konsep yang penting bagi
kompetensinya sebagai warganegara dan berusaha mandiri secara emosional (Hurlock, 1997).
Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 1, Juni 2006
31
Tuntutan situasi sosial tersebut akan dapat dipenuhi oleh remaja bila ia memiliki
kemampuan untuk memahami berbagai situasi sosial dan kemudian menentukan perilaku yang
sesuai dan tepat dalam situasi sosial tertentu, yang biasa disebut dengan kemampuan penyesuaian
sosial. Remaja yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, tentu akan mampu melewati masa
remajanya dengan lancar dan diharapkan ada perkembangan ke arah kedewasaan yang optimal
serta dapat diterima oleh lingkungannya. Sebaliknya, apabila remaja mengalami gangguan
penyesuaian diri pada masa ini, maka kelak remaja akan mengalami hambatan dalam
penyesuaian diri pada tahap perkembangan selanjutnya (Andayani, 2003).
Kemampuan remaja dalam melakukan penyesuaian dengan lingkungan sosialnya tidak
timbul dengan sendirinya. Kemampuan ini diperoleh remaja dari bekal kemampuan yang telah
dipelajari dari lingkungan keluarga, dan proses belajar dari pengalaman-pengalaman baru yang
dialami dalam interaksinya dengan lingkungan sosialnya. Saat individu berinteraksi dengan
lingkungan sosialnya, individu tersebut harus memperhatikan tuntutan dan harapan sosial yang
ada terhadap perilakunya. Maksudnya bahwa individu tersebut harus membuat suatu kesepakatan
antara kebutuhan atau keinginannya sendiri dengan tuntutan dan harapan sosial yang ada,
sehingga pada akhirnya individu akan merasakan kepuasan pada hidupnya.
Pada masa remaja mereka dituntut untuk dapat menentukan sikap pilihannya dan
kemampuannya dalam menyesuaikan diri terhadap tuntutan lingkungannya agar partisipasinya
selalu relevan dalam kegiatan masyarakat. Berdasarkan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari,
kenyataan memperlihatkan bahwa tidak semua remaja berhasil atau mampu melakukan
penyesuaian sosial dalam lingkungannya. Hal ini tampak dari banyaknya keluhan remaja yang
disampaikan dalam rubrik konsultasi psikologi (Andayani 2003) atau dapat juga diketahui dari
berbagai berita atau ulasan menganai masalah dan perilaku menyimpang remaja dalam berbagai
media, baik media cetak maupun elektronik.
Jika remaja tidak mampu melakukan penyesuaian sosial, maka akan menimbulkan
permasalahan yang semakin kompleks. Permasalahan-permasalahan tersebut menuntut suatu
penyelesaian agar tidak menjadi beban yang dapat mengganggu perkembangan selanjutnya. Hal
inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa masa remaja dinilai lebih rawan daripada tahaptahap
perkembangan manusia yang lain (Hurlock, 1997).
Menghadapi masalah yang begitu kompleks, banyak remaja dapat mengatasi masalahnya
dengan baik, namun tidak jarang ada sebagian remaja yang kesulitan dalam melewati dan
mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapinya. Remaja yang gagal mengatasi masalah
seringkali menjadi tidak percaya diri, prestasi sekolah menurun, hubungan dengan teman menjadi
kurang baik serta berbagai masalah dan konflik lainnya yang terjadi (Milarsari dalam Sari 2005).
Remaja-remaja bermasalah ini kemudian membentuk kelompok yang terdiri dari teman sealiran
dan melakukan aktivitas yang negatif seperti perkelahian antar pelajar (tawuran), membolos,
minum-minuman keras, mencuri, memalak, mengganggu keamanan masyarakat sekitar dan
melakukan tindakan yang dapat membahayakan bagi dirinya sendiri.
Berkaitan dengan masalah ini (Sarwono, 1985) mengemukakan usaha mengenai
penyesuaian diri sebagai kemampuan mengatasi timbulnya perilaku delinkuen pada remaja.
Berhasil tidaknya remaja dalam mengatasi tekanan dan mencari jalan keluar dari berbagai
masalahnya tergantung bagaimana remaja mempergunakan pengalaman yang diperoleh dari
lingkungannya dan kemampuan menyelesaikan masalah tersebut sehingga dapat membentuk
sikap pribadi yang lebih mantap dan lebih dewasa.
Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 1, Juni 2006
32
Hipotesis
Hipotesis yang diajukan yaitu 1) ada hubungan antara penyesuaian sosial dan
kemampuan menyelesaikan masalah dengan kecenderungan perilaku delinkuen, 2) ada hubungan
negatif antara penyesuaian sosial dengan kecenderungan perilaku delinkuen, 3) ada hubungan
negatif antara kemampuan menyelesaikan masalah dengan kecenderungan perilaku delinkuen.
Metode Penelitian
Populasi penelitian ini adalah sebagian siswa SMU PGRI 01 Kendal. 3 kelas untuk
penelitian sebanyak 78 orang diperoleh dengan cluster random sampling.
Metode pengumpulan data menggunakan alat ukur skala kecenderungan perilaku
delinkuen, skala penyesuaian sosial dan skala kemampuan menyelesaikan masalah.
Skala kecenderungan perilaku delinkuen ini merupakan modifikasi Dyah (2004)
berdasarkan aspek-aspek sosial, hukum dan agama. Skala penyesuaian sosial modifakasi
Damayanti (2005) berdasarkan aspek-aspek penampilan nyata, penyesuaian diri terhadap
kelompok, sikap sosial, dan kepuasan pribadi. Skala kemampuan menyelesaian masalah
modifikasi dari Nurjanah (2003) berdasarkan aspek-aspek motivasi, kepercayaan dan sikap yang
tepat, fleksibilitas, dan kestabilan emosi.
Teknik analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Ganda Dua Prediktor.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan teknik analisis regresi ganda 2 prediktor
menghasilkan koefisien korelasi R = 0,651 dengan Freg = 27,540 dengan p<0,01. Hal ini berarti
hipotesis mayor yang diajukan diterima, yaitu ada hubungan yang sangat signifikan antara
penyesuaian sosial dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan kecenderungan perilaku
delinkuen pada remaja.
Hasil korelasi parsial (r par) yang dilakukan terhadap hubungan antara penyesuaian
sosial dengan kecenderungan perilaku delinkuen pada siswa diperoleh r = -0,450 dengan
p<0,01. Hal ini berarti ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara penyesuaian sosial
dengan kecenderungan perilaku delinkuen pada siswa. Hal ini berarti hipotesis minor pertama
yang diajukan diterima.
Hasil korelasi parsial (r par) terhadap hubugan kemampuan menyelesaikan masalah
dengan kecenderungan perilaku delinkuen pada siswa diperoleh nilai r = -0,137 dengan p< 0,05.
Hal ini berarti ada hipotesis minor kedua juga terbukti yaitu hubungan negatif yang signifikan
antara kemampuan menyelesaikan masalah dengan kecenderungan perilaku delinkuen pada
siswa.
Hasil penelitian ini mendukung pendapat Daradjat (1985) yang mengemukakan agar
seseorang berperilaku baik tentu saja harus didasari adanya kemampuan untuk menyesuaiakan
dirinya dengan keadaan lingkungan tempat ia tinggal, sedangkan bila seseorang gagal dalam
mengadakan penyesuaian diri akan dimanifestasi dalam kelainan tingkah laku yang dimunculkan
dalam bentuk tingkah laku yang agresif, penganiayaan, penipuan, pemakaian obat terlarang atau
narkotika dan sebagainya. Pendapat diatas hampir sama dengan apa yang dikemukan Shapiro
(Sari 2005) bahwa remaja yang kurang mendapat pemenuhan kebutuhan psikis dari
lingkungannya dapat mengakibatkan remaja tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah
marah dan susah tidur, lebih gugup dan agresif. Yang lebih lanjut dijelaskan oleh Gottman & De
Claire (Sari 2005) yaitu pada kondisi kesepian, depresi remaja menjadi rentan untuk terlibat pada
Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 1, Juni 2006
33
kasus-kasus kriminalitas akibat pengaruh kekuatan yang tidak baik dalam lingkungan sosialnya,
seperti resiko pemakaian obat terlarang, kekerasan atau kegiatan seksual yang tidak aman.
Hasil penelitian ini juga mendukung pendapat Prihartanti (Andayani 2003) yang
menemukakan bahwa tuntutan situasi sosial akan dapat dipenuhi oleh remaja bila ia memiliki
kemampuan untuk memahami berbagai situasi sosial dan kemudian menentukan perilaku yang
sesuai dan tepat dalam situasi sosial tertentu, yang biasa disebut dengan kemampuan penyesuaian
sosial. Remaja yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, tentu akan mampu melewati masa
remajanya dengan lancar dan diharapkan ada perkembangan ke arah kedewasaan yang optimal
serta dapat diterima oleh lingkungannya.
Hasil analisis data terhadap hubungan antara kemampuan menyelesaikan masalah dengan
kecenderungan perilaku delinkuen pada siswa menunjukkan ada hubungan negatif yang sangat
signifikan. Hal ini menunjukkan semakin tinggi kemampuan menyelesaikan masalah pada siswa
semakin rendah kecenderungan perilaku delinkuennya.
Hasil ini mendukung pendapat Milarsari (Sari 2005) yang mengatakan bahwa remaja
yang gagal mengatasi masalah seringkali menjadi tidak percaya diri, prestasi sekolah menurun,
hubungan dengan teman menjadi kurang baik serta berbagai masalah dan konflik lainnya yang
terjadi. Lebih lanjut Sarwono (1985) mengemukakan usaha mengenai penyesuaian diri sebagai
kemampuan mengatasi timbulnya perilaku delinkuen pada remaja. Berhasil tidaknya remaja
dalam mengatasi tekanan dan mencari jalan keluar dari berbagai masalahnya tergantung
bagaimana remaja mempergunakan pengalaman yang diperoleh dari lingkungannya dan
kemampuan menyelesaikan masalah tersebut sehingga dapat membentuk sikap pribadi yang lebih
mantap dan lebih dewasa.
Dari hasil penelitian ini dapat diketahui kecenderungan perilaku delinkuen subjek
tergolong rendah. Hal ini ditunjukkan dengan rerata empirik sebesar 87,449 lebih rendah dari
rerata hipotetik sebesar 117,5. Penyesuaian sosial subjek tergolong tinggi yang ditunjukkan
dengan rerata empirik sebesar 110,449 dan rerata hipotetik sebesar 90. Kemampuan
menyelasaikan masalah subjek tergolong sedang yang ditunjukkan dengan rerata empirik sebesar
103,692 dan rerata hipotetik 90.
Peranan atau sumbangan efektif total dari variabel penyesuaian sosial dan kemampuan
menyelesaikan masalah terhadap kecenderungan perilaku delinkuen sebesar 42,343% dengan
rincian variabel penyesuaian sosial sebesar 40,541% dan kemampuan menyelesaikan masalah
sebesar 1,802% jadi dapat diambil kesimpulan bahwa antara variabel penyesuaian sosial dan
kemampuan menyelesaikan masalah yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap
kecenderungan perilaku delinkuen adalah variabel penyesuaian sosial . Hal ini berarti masih
terdapat 57,657% faktor lain yang mempengaruhi kecenderungan perilaku delinkuen yaitu faktor
tanggung jawab sosial, dukungan sosial, pola asuh orangtua, dan status sosial ekonomi keluarga.
Simpulan dan Saran
Penelitian ini menyimpulkan : 1) ada hubungan yang sangat signifikan antara
penyesuaian sosial dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan kecenderungan perilaku
delinkuen pada siswa, 2) ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara penyesuaian sosial
dengan kecenderungan perilaku delinkuen pada siswa, 3) ada hubungan negatif yang signifikan
antara kemampuan menyelesaikan masalah dengan kecenderungan perilaku delinkuen pada
siswa.
Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 1, Juni 2006
34
Merujuk kepada hasil penelitian ini, diajukan saran kepada subjek agar dapat
mempertahankan kondisi ini dengan selalu mematuhi peraturan atau norma yang berlaku
dimasyarakat, menambah keterampilan sosial. Kepada peneliti lain yang tertarik untuk
mengadakan penelitian dengan tema yang sama peneliti menyarankan penelitian lebih
memperluas ruang lingkup, misalnya dengan memperluas populasi, atau menambah variabelvariabel
lain agar hasil yang didapat lebih bervariasi dan beragam sehingga kesimpulan yang
diperoleh lebih komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA
Andayani, B. 2003. Hubungan Antara Dukungan Sosial Ayah dengan Penyesuaian Sosial Pada
Anak Remaja Laki-Laki. Buletin Psikologi No 1 halaman 23-35.
Cahyono, R. T., Hidayati, NILNH, Lestari, S. 2001. Kecenderungan Somatisasi Ditinjau Dari
Sense of Humor dan Kemampuan Menyelesaikan Masalah. Jurnal Ilmiah Berkala
Psikologi, Vol 6 No 2 halaman 159-167.
Damayanti, I. 2005. Hubungan antara Kepercayaan Diri dengan Penyesuaian Sosial pada Waria.
Skripsi (Tidak Diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi UMS.
Daradjat, Z. 1985. Kesehatan Mental. Jakarta: PT. Gunung Agung.
Dyah, I. P. 2004. Hubungan antara Keharmonisan Keluarga dan Locus of Control dengan
Kecenderungan Perilaku Delinkuen pada Remaja. Skripsi (Tidak Diterbitkan).
Surakarta: Fakultas Psikologi UMS.
Hurlock, E. B. 1997. Perkembangan Anak Jilid 2 (Terjemahan oleh Meitasari Tjandra). Jakarta:
Erlangga.
Kartono, K. 1986. Psikologi Anak. Bandung: Alumni.
. 1998. Patologi Sosial Jilid 2 Kenakalan Remaja. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Kuntjoro. 2006. http://www.google.co.id/search?hl=id&q=kasuskasus+kenakalan+remaja
&meta=Media Indonesia Online. com
Mappiere, A. 1982. Psikologi Remaja. Usaha Nasional.
Meichati, S. 1983. Kesehatan Mental: Dasar-Dasar Praktis Bagi Pengetahuan dan Kehidupan
Bersama. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Monks. 1998. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bidang (Terjemahan
Haditono). Yogyakarta: UGM.
Mulyono, Y. B. 1986. Mengatasi Kenakalan Remaja. Yogyakarta: Yayasan Andi.
Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 1, Juni 2006
35
Nurjanah, S. 2003. Hubungan antara Peran Androginitas dengan Kemandirian dan Kemampuan
Pemecahan Masalah. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi UMS.
Sari, M. Y. 2005. Kecerdasan Emosional dan Kecenderungan Psikopat Pada Remaja Delinkuen
Di Lembaga Pemasyarakatan. Anima Vol 20 No 2 halaman 139-148.
Sarwono, S. W. 1985. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali.
Soedarsono. 1990. Kenakalan Remaja, Prevensi, Rehabilitasi dan Rasionalisasi. Jakarta: Rineka
Cipta.
Sujanta, A. 1995. Psikologi Umum. Jakarta: Grafika Offset.
Suryabrata, S. 1990. Metodologi Penelitian. Jakarta: CV. Rajawali.
Walgito, B. 1997. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta. Andi Offset
Willis, S.S. 1994. Problema Remaja dan Pemecahannya. Bandung: Angkasa.
Yayasan Penerus Nilai-Nilai Perjuangan 1945. 1998. Mencegah Kenakalan Remaja Antar
Pelajar. Jakarta: Sekala Jalamakarya.
http://WEB Terintegrasi Kabupaten Garut. Com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar